Persahabatan Arsya dan Anandha
“Ndha, cepetan bangun ini sudah siang,
mau sampai kapan kamu tidur.”Suara yang terdengar sedikit berteriak itu
membangunkanku dari tidur pulasku, rupanya itu mama yang berusaha untuk
membangunku yang masih terbaring di tempat tidurku.
“iyaa, maaaa.” Jawabku dengan mata
yang masih terpejam.
“ini sudah jam 6 lebih, nanti kamu
bisa terlambat sekolahnya.”omel mama sembari menarik selimutku.
“apaaaa???!!” aku terkejut dan
langsung beranjak dari tempat tidur.
“kenapa mama gak bangunin aku sih?”
tanyaku kepada mamah sembari menuju ke kamar mandi untuk segera mandi.
“mama udah nyoba buat bangunin kamu
dari tadi, tapi kamu nggak bangun-bangun.” jawab mama sembari merapikan tempat
tidurku.
Setelah
semuanya beres, aku langsung menuju ke meja makan untuk mengambil minum dan bekal
yang sudah disiapkan mamaku.
“Ndha, kamu nggak makan dulu?”
tanya mama.
“engga ma takut telat, nanti
Anandha makan di sekolah saja.” Jawabku sambil lari menuju mobil.Seperti biasa,
aku berangka kesekolah diantar oleh pak Amin,supir dikeluargaku.
Sesampainya
di sekolah, aku langsung menuju ke kelasku.Ketika sedang menuju kelas, aku
melihat Arsya yang sedang duduk bersama teman-temannya.Arsya atau Insan adi
Prakarsya adalah cowok yang paling nyebelin yang pernah aku kenal.Dia dijuluki
dengan sebutan “The King of School” karena dia adalah cucu dari pemilik sekolah
kami.Tetapi aku lebih sering menyebutnya “Anak manja”, karena sifatnya yang
masih terlalu kekanak-kanakan.
“heeehh cewek sok pinter, tumben lu
siang banget datangnya, habis begadang lu?hahahaha.”tanya Arsya kepadaku dengan
nada yang sedikit mengejek.
“memangnya kenapa kalau aku
begadang? Lagipula itu juga karena aku belajar buat ulangan hari ini, nggak
kaya kamu! Begadang tapi dengan hal-hal yang nggak jelas.”Jawabku dengan
sedikit nada tinggi.
“maksud lu apa haahhh???” tanya dia
dengan sedikit sewot.
“emang benerkan, lu tuh bisanya
cuma hura-hura, ngabisin uang ortu lu, kumpul-kumpul nggak jelas ama
temen-temen lu, malah yang lebih miris lagi, lu tuh gak pernah belajar sehingga
nilai lu jelek semua.”jawabku dengan sedikit kesel.
Belum juga dia menjawab
perkataanku, kami dikagetkan dengan adanya Bu Vera yang telah memasuki kelas
kami.Lalu kami segera duduk ke meja masing-masing.
Hari ini
kami mengikuti ulangan Kimia yang seminggu lalu dibahas oleh Bu Vera.Setelah
selesai ulangan kamipun melanjutkan pelajaran seperti biasa hingga jam
pelajaran selesai.
Seperti biasanya, aku menunggu
jemputan didekat gerbang.Selang beberapa
saat, Arsya dan teman-temannya datang
“heehhh cewek sok piter lagi nunggu
jemput ya?? Kasian banget sih lu.” Ejek si anak manja.Namun aku tak
menghiraukannya dan berharap dia cepat pergi.
Untunglah pak Amin segera datang,
sehingga aku tak perlu meladeninya.
**
Keesokan
harinya, Bu Vera membagikan hasil ulangan kami.Bersyukur banget aku bisa
mendapat nilai yang sangat memuaskan.Namun entah mengapa ketika istirahat, aku
disuruh keruang guru, dan anehnya lagi si anak manja itu juga dipanggil ke
ruang guru.Aku takut, jangan-jangan aku dapat masalah lagi gara-gara si anak
manja ini. Soalnya kemarin aku sempat debat sama dia, dan bisa saja kan dia
bilang ke kakeknya lalu setelah itu aku dikeluarkan dari sekolah ini gara-gara
aku punya masalah sama cucu dari pemilik sekolah ini. Sedari dulu aku masuk ke
sekolah ini aku memang tak pernah akur dengan si anak manja, dan dia selalu
berusaha untuk mengerjaiku.Jantugku berdebar dengan kencangnya, lalu datanglah
bu Vera dan berkata.
“Anandha, kami bangga dengan
prestasi yang selalu kamu raih dan bisa mengharumkan nama sekolah kita.”Puji bu
Vera.
“teriama kasih, bu.” Jawabku.
“tetapi kami merasa kecewa dengan
sikapmu, Arsya!!!” ujar bu Vera dengan sedikit nada tinggi sembari menunjuk si
arsya.
“lah kenapa bu? Saya kurang apa
coba? Ganteng ?iya, tajir? Iya,kurang apa lagi coba?” jawabnya sombong.
“idiiihh, GR.”sewotku.
“apa lu kata??!!” tanya dia sedikit
nyolot.
“Sudah-sudah, kalian ini memang
tidak bisa akur dari dulu ya.”Bu Vera mencoba untuk melerai.
“ibu memanggil kalian kesini bukan
untuk berdebat, tapi ibu memanggil kalian itu untuk saling bekerja sama.” Jelas
bu Vera.
“APAAAA??!!!” aku dan Arsya kaget
bukan kepalang setelah mendengar ucapan bu Vera.
“ibu bercanda kan bu ? mana mungkin
saya belajar sama cewek sok pinter ini, mana bawel lagi orangnya.”oceh Arsya.
“enak aja lu kata, emang siapa juga
yang mau belajar bareng sama lu.” Jawabku.
“pokoknya ibu ngga mau tau, kalian
harus bekerja sama. Dan kamu Arsya(sambil menunjuk arsya) ibu ngga mau tau,
nilai kamu harus bisa lebih baik dari ini. Masa dari dulu nilia kamu jelek
terus.” Jelas bu vera.
Setelah itu, mau nggak mau aku
harus jadi guru privat anak manja itu setiap harinya.
**
Pada suatu
hari, ketika aku kerumah Arsya untuk belajar separti biasanya, aku mendapati
Arsya sedang tidak ada di rumah.Namun aku bertemu dengan mamah nya Arsya.
“temennya Arsya ya?”tanya mamahnya
arsya.
“eemmm, iya tante.” Jawabku dengan
sedikit menunduk.
“silahkan masuk, tapi maaf Arsyanya
tidak ada di rumah. Dia sedang ke super market untuk membeli makanan, mungkin
sebentar lagi dia pulang.”kata sit ante.
“ooohh, iya tan, gpp.”jawabku.
“oh iya, nama kamu siapa?” tanya
tante.
“Anandha tan, Anandha Nurul Prakarsa.”jelasku.
“ohh, kok namanya hampir sama kaya Arsya
ya.”
“heemmm, mungkin Cuma kebetulan
saja tan.” Jawabku.
Sembari
menunggu si anak manja itu balik, aku dan mamanya arsya ngobrol-ngobrol sedikit
tentang kesibukanku tiap harinya.Disela-sela obrolan itu, mamah nya Arsya cerita
tentang penyakit yang diderita arsya.Ternyata dibalik sifat sombong dan
pecicilannya, dia meraskan sakit yang amat sangat. Rupanya si anak manja itu
menderita penyakit kanker otak stadium akhir.mendengar cerita itu, aku merasa
tidak enak hati dengan apa yang sering aku perbuat ke Arsya, ya walaupun dia
yang selalu cari gara-gara sama aku. Tak lama setelah itu, si arsya datang
dengan menenteng banyak kantong makanan.
“eh elu. Udah lama lu
datangnya?”tanya arsya sedikit berbeda dari biasnya.
“engga juga kok.” Jawabku.
Setelah meletakkan belanjaannya itu, Arsya lalu
mengambil bukunya.
“mah, kok Anandha gak diambilin
minum?” kata arsya.
Aku sediki
nggak percaya arsya bilang seperti itu. Biasaya dia memanggilku cewek sok
pinter, tapi sekarang dia memanggilku dengan sebutan biasa.entah karena ada
mamanya atau apa, yang jelas aku masih nggak bisa percaya ini.
“Ndha, sekarang kita mau belajar
apa?” tanya Arsya kepadaku.
“ohh , iya, kenapa?” tanyaku
ling-lung.
“lu ngelamun ya?”tanya arsya lagi.
“engga kok, aku cuma nggak nyangka
aja lu bisa beda banget gini. Lu tuh beda banget tau, kalo dirumah lu asik
gini, tapi kalau di sekolah lu berubah 180 derajat.” Jawabku heran.
“ahh. Biasa aja kali.Udah lah kita
mulai aja belajarnya, biar cepet selesai terus lu bisa cepet pulang dah.”Jawab
arsya sedikit bercanda dan mulai membuka buku untuk belajar.
“lu tuh beneran punya penyakit
kanker, sya?”tanyaku lirih.
“huuufffttt. . .akhirnya lu tau
juga.” Jawab nya sembari manarik nafas panjang.
“maksud lu?”tanyaku heran.
“sebenernya gua punya penyakit ini
udah sejak 3 tahun lalu, gua pernah operasi beberapa kali, tapi itu semua nggak
berhasil. Sampai akhirnya gua mutusin buat hidup apa adanya dan pasrah sama apa
yang akan terjadi sama gua. Gua berusaha nutupin ini dengan sikap gua selama
ini.Gua gak mau kelihatan lemah didepan temen-temen gua.”Ujar arsya, dan
terlihan matanya sudah berkaca-kaca.
Ketika aku hendak memberi motivasi
ke dia, belum sepat aku berkata,
tiba-tiba dia memeluk aku sembari
berkata.
“maafin gua kalau gua banyak salah,
gua harap lu mau maafin gua dan mau jadi sahabat gua disisa hidup gua.”
Pintanya.
Aku hanya mengangguk dan merespon
pelukannya.
Semenjak kejadian itu, aku semakin
akrab dan sering jalan bareng dengan arsya.
**
Hari demi
hari berganti, tak terasa tinggal 2 bulan lagi kami sudah ujian nasional, dan
perkembangan nilai arsya selama ini juga cukup memuaskan.
Suatu hari
aku dan arsya pergi berdua ke sebuah took buku langganan kami, kami berniat
untuk membeli buku untuk referensi belajar kami.Setelah itu kami mampir
kesebuah taman bermain. Disana kami belajar sembari melihat betapa bahagianya
anak-anak yang bermain disana. Hingga suatu ketika arsya memegang tanganku dan
berkata.
“aku ingin kita selalu bersama
dalam mengejar impian kita, yaitu menjadi seorang sarjana dan menjadi seorang
guru kimia, yang dari dulu tak pernah terfikirkan olehku. Aku ingin kamu selalu
ingat kata-kata ini sampai kita sukses dan sampai kita meninggalkan dunia
ini.”Kata arsya.
Mendengar kata-kata itu aku hanya
bisa mengangguk dan memegang erat tangannya,Setelah itu kami pulang.
Ketika sampai dirumah arsya, mamahnya arsya
mempersilahkanku untuk mampir dahulu, namun karena hari sudah mulai malam, aku
langsung pulang karena takut ortuku khawatir.
**
Hari
ini adalah hari yang sangat kami tunggu-tunggu, dimana hari ini dan beberapa
hari selanjutnya adalah hari penentu kelulusan kami atau ujian nasional.Aku
sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang, mulai dari belajar bareng
arsya, les tambahan, dan lain-lain.Dari hari pertama sampai hari terakhir
ujian, aku pasti selalu belajar bersama arsya setelah pulang sekolah.
Hari
demi hari berganti, tinggal 1minggu menunggu hasil kerja keras kami selam 3
tahun ini.Namun, pada suatu sore ketika aku hendak ke rumah arsya untuk
mengajak arsya membeli buku, aku mendapati sebuah bendera kuning berkibar
didepan rumah arsya.Aku bertanya-tanya, siapakah yang meninggal.Lalu aku
bertanya kepada salah seorang pelayat.
“maaf pak, memangnya
siapa ya yang meninggal?” tanyaku kepadanya.
“itu de, anaknya bapak
ahmad prakarsa, yang namnya insan adi prakarsa.”
“haaaaaahhhhhhhhh???apaaaaa????”
aku sangat kaget mendengar itu, lalu aku segera masuk dan langsung disambut
oleh mamanya arsya.
“ndha, ini ada
titipan surat dari arsya. Ini amanat
terakhir dari arsya untukmu.” Ujar mamanya arsya sembari memberikan sebuah
amplop yang berisi surat.
Setelah semua proses pemakaman selesai, aku bergegas untuk
pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamarku, aku hanya bisa
duduk terpaku di sudut kamar sembari membaca surat dari arsya yang berisi,
“dear nandha.
Sebelumnya
aku minta maaf ke kamu, karena aku tidak bisa mendampingimu lebih lama lagi.Aku
juga minta maaf, karena aku selalu menyusahkanmu selama ini.Aku hanya berpesan
padamu agar kamu selalu bersemangat untuk meraih semua impian kita, dan aku
juga sangat berharap agar kamu bisa mewujudkan impian kita. Aku akan sangat
bahagia walau kita tak bisa bersama-sama lagi. Kamu harus bisa memulai
kehidupan yang lebih baik lagi, aku hanya bisa mendoakanmu agar kamu selalu
sukses.
Your best friend
Insan adi prakarsa”
**
Setelah Arsya meninggal, aku berjuang
seorang diri.Sampi saat ini aku masih akrab dengan keluarganya, bahkan pernah
suatu ketika keluargaku dan keluarga Arsya jalan bersama. Sampai pada akhirnya
aku lulus kuliah dan menjadi sarjana kimia sesuai dengan cita-cita kami. aku selalu berdoa agar Arsya bahagia disana.